Knock, knock........

Mau cari kostan dik?

IN CHARACTER

Miskah berdiri cukup lama di depan bangunan itu sebelum akhirnya benar-benar masuk, tangannya menggenggam ujung tas selempang yang ia bawa, bukan karena berat, tapi lebih karena ia butuh sesuatu untuk dipegang, sementara bangunan di depannya terlihat terlalu rapi dan terlalu bersih, seolah belum pernah disentuh oleh kehidupan sama sekali, catnya masih baru, pagar belum berkarat, dan halaman depannya bahkan belum punya bekas jejak siapa pun yang pernah datang lalu pergi, dan untuk beberapa detik Miskah hanya berdiri di sana, menarik napas pelan, mencoba menenangkan sesuatu yang tidak benar-benar ia mengerti.Sudah lama sejak terakhir kali ia mengurus tempat seperti ini, dulu ia terbiasa dengan suara pintu dibanting, motor keluar masuk tanpa jeda, suara orang memasak tengah malam, sampai keluhan penghuni yang datang silih berganti tanpa henti, dan dulu semua itu terasa melelahkan, tapi sekarang yang ia ingat justru kebalikannya—kesunyian setelah semuanya berhenti, setelah satu per satu orang pergi, setelah kamar-kamar kosong tidak lagi terasa seperti jeda sementara, melainkan seperti akhir dari sesuatu yang tidak sempat ia pertahankan.“Masuk, Mis. Jangan bengong di luar kayak mau kabur,” suara Keandre terdengar dari dalam, setengah berteriak dan sedikit menggema keluar.Miskah mendengus kecil sebelum akhirnya melangkah masuk, dan begitu kakinya menginjak lantai lorong utama, suara langkahnya langsung memantul ke dinding-dinding yang masih kosong, membuat tempat itu terasa lebih luas dari yang sebenarnya, dengan deretan pintu kamar yang tertutup rapi di kanan kiri seperti barisan yang menunggu diisi oleh sesuatu yang belum datang.“Tiga puluh kamar,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke orang lain.
Jumlah itu terasa besar, bukan hanya karena banyaknya pintu yang harus terisi, tapi karena setiap pintu berarti satu orang, satu kebiasaan, satu masalah, satu cerita yang belum ia kenal.
Di ujung lorong, Juna sudah lebih dulu masuk ke salah satu kamar dan kini jongkok di lantai, memperhatikan sesuatu dengan serius seperti menemukan benda penting.
“Ngapain?” tanya Miskah sambil mendekat.Juna mendongak tanpa ekspresi aneh. “Ini ada sendok.”Miskah mengernyit sedikit. “Ya terus?”“Kenapa ada sendok di kamar kosong?”Miskah menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pendek. “Mungkin bekas tukang.”
Juna mengangguk pelan, seolah jawaban itu cukup menjelaskan segalanya, lalu memasukkan sendok itu ke kantongnya dengan santai.
“Jangan dikoleksi juga kali,” kata Miskah.“Lumayan,” jawab Juna singkat.Miskah menggeleng kecil, tapi tidak melanjutkan, karena entah kenapa percakapan aneh seperti itu justru membuat suasana tidak terasa terlalu berat.Mereka berkumpul di ruang tengah tidak lama setelah itu, Keandre membawa sebuah map tipis yang sejak tadi ia simpan dengan ekspresi sedikit terlalu semangat, sementara Kamal duduk bersandar dengan sikap santai tapi tatapan yang tetap memperhatikan sekitar, dan Miskah ikut duduk tanpa banyak bicara, menunggu sesuatu yang belum ia yakin ingin ia dengar.
“Ini aturan mainnya,” kata Keandre sambil membuka map tersebut.
Miskah melirik sekilas, lalu mengambil lembarannya dan mulai membaca, perlahan, tanpa terburu-buru, seolah setiap kalimat butuh waktu untuk benar-benar dipahami.
Mereka diberi waktu dua puluh satu hari, target minimal tiga puluh kamar harus terisi, dan selama itu mereka harus menjalankan serangkaian misi sosial dari MATAKOS yang akan diberikan secara bertahap, tanpa penjelasan lebih jauh tentang apa yang akan terjadi jika mereka gagal atau apa sebenarnya tujuan akhir dari semua ini.
“Dua puluh satu hari…” gumam Miskah pelan, matanya masih tertuju pada kertas itu.Ia mengangkat kepala dan menatap yang lain. “Empat puluh kamar, tapi targetnya juga tiga puluh, kenapa nggak sekalian penuh?”Kamal menjawab tanpa banyak bergerak. “Berarti yang dicari bukan sekadar penuh.”Miskah tidak langsung menanggapi, ia hanya menatap kembali lembaran itu, mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis di sana.
“Kalau nggak sampai tiga puluh?” tanyanya akhirnya.
Keandre mengangkat bahu. “Nggak dijelasin.”“Ya jelas nggak dijelasin,” jawab Miskah pelan. “Kalau dijelasin, kita bisa mikir dua kali dari awal.”Di samping mereka, Juna yang sejak tadi memainkan sendoknya tiba-tiba berkata dengan nada datar, “Berarti kita mulai aja, kan?”
Semua menoleh ke arahnya, dan untuk sesaat tidak ada yang menjawab, tapi kalimat itu menggantung dengan cara yang aneh—terlalu sederhana untuk dibantah.
Miskah menarik napas pelan, lalu berdiri. “Iya,” katanya singkat. “Kita mulai.”Hari pertama membuka pendaftaran terasa lebih canggung dari yang ia bayangkan, Miskah duduk di meja depan dengan buku catatan besar di depannya, mencoba mengingat kembali bagaimana caranya jadi “ibu kos” yang dulu ia jalani tanpa perlu berpikir, kini terasa seperti sesuatu yang harus dipelajari ulang dari awal, bahkan cara menyapa orang pun sempat ia pikirkan terlalu lama di dalam kepala.Pintu depan akhirnya terbuka siang itu, dan seorang mahasiswa masuk dengan ransel besar di punggungnya dan wajah yang terlihat lelah seperti habis perjalanan jauh.“Masih ada kamar?” tanyanya pelan.Miskah langsung mengangguk, sedikit terlalu cepat. “Masih banyak, mau lihat dulu?”Mahasiswa itu mengangguk dan mengikuti Miskah ke lorong, langkah mereka terdengar lebih jelas dari yang seharusnya karena tempat itu masih terlalu sepi.“Ini salah satu kamarnya,” kata Miskah sambil membuka pintu.
Mahasiswa itu masuk, melihat sekeliling dengan cepat, lalu mengangguk kecil seperti sudah cukup yakin.
“Berapa, Kak?”
Miskah menyebutkan harga yang sudah mereka sepakati, sedikit menahan napas tanpa sadar.
Mahasiswa itu berpikir sebentar, lalu berkata, “Saya ambil.”
Sesederhana itu, Miskah langsung mencatat nama mahasiswa itu di buku besar di depannya, menuliskannya dengan sedikit lebih rapi dari biasanya seolah ingin memastikan momen kecil itu tidak terasa biasa saja, dan ketika ia selesai, ia sempat berhenti sejenak, menatap satu baris tulisan yang baru saja ia buat—satu kamar akhirnya terisi—dan entah kenapa ia menahannya lebih lama dari yang seharusnya, seperti sedang memastikan bahwa ini benar-benar terjadi, bahwa semua ini benar-benar sudah dimulai.Hari berikutnya mereka mulai bergerak lebih aktif, Keandre sibuk membuat dan menyebarkan informasi ke mana saja yang ia anggap strategis, Kamal membantu secukupnya sambil lebih banyak mengamati, sementara Juna pergi tanpa arah yang jelas tapi selalu kembali dengan kabar tentang orang-orang yang mungkin tertarik.
“Ada yang lagi nyari kos,” katanya suatu sore.
“Serius?” tanya Miskah.
“Iya, gue ajak ke sini besok.”
Miskah tidak tahu bagaimana Juna meyakinkan orang, tapi ia tidak banyak bertanya.Beberapa orang mulai datang lagi, tidak banyak dan tidak sekaligus, tapi cukup untuk membuat suasana perlahan berubah, setiap kali pintu terbuka Miskah refleks menoleh, setiap kali seseorang masuk ia memperhatikan dengan lebih teliti, mencoba membaca siapa mereka bahkan sebelum mereka bicara.Ia mulai kembali ke kebiasaannya menyambut dengan nada yang pas, tidak terlalu ramah tapi juga tidak dingin, berbicara secukupnya, dan membiarkan orang merasa cukup nyaman untuk memutuskan sendiri.
Suatu sore, ia berdiri di depan papan kecil yang ia pasang di dekat meja, di sana ia mulai mencatat jumlah kamar yang terisi, satu, lalu dua, lalu tiga, angka-angka kecil itu terlihat sederhana tapi terasa lebih berat dari yang ia kira, karena setiap angka berarti waktu yang berjalan, dan dua puluh satu hari bukan sesuatu yang bisa ia abaikan.
Ia melirik catatan aturan yang masih terlipat di meja.Waktu terus berjalan.Di belakangnya, suara Keandre terdengar menjelaskan sesuatu dengan semangat kepada calon penghuni baru, Kamal berdiri tidak jauh sambil memperhatikan, dan Juna duduk di tangga dengan santai, memainkan sendok yang entah kenapa selalu ia bawa, sesekali menyela percakapan dengan komentar yang tidak selalu penting tapi cukup untuk membuat suasana tidak kaku.Miskah memperhatikan mereka sebentar, lalu menoleh kembali ke lorong panjang di depannya, deretan pintu yang masih banyak tertutup itu terasa seperti ruang-ruang yang menunggu untuk diisi oleh sesuatu yang belum ia kenal, dan untuk pertama kalinya sejak ia datang, ia tidak lagi merasa ragu.
Ia hanya menarik napas dalam, menutup buku catatannya pelan, dan ketika suara pintu depan kembali terbuka dari luar, ia langsung menoleh, sedikit lebih sigap dari sebelumnya, lalu tersenyum tipis dan berkata dengan nada yang kini terasa lebih natural,
“Cari kamar?”

OUT OF CHARACTER

Nivṛti adalah sebuah roleplayer closed agency lokal yang dirancang sebagai ruang interaksi terbatas namun intens, di mana setiap member dapat merasakan dinamika kebersamaan dalam lingkungan yang lebih terarah dan eksklusif. Merupakan agency non point dan menerima total 30 member, terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan, sehingga setiap individu memiliki ruang yang seimbang untuk berinteraksi, berkembang, dan membangun koneksi selama berlangsungnya kegiatan.Berbeda dengan agency pada umumnya, Nivṛti hanya berjalan dalam satu batch saja selama 21 hari, tanpa perpanjangan atau gelombang berikutnya. Konsep ini dibuat agar setiap momen terasa lebih bermakna, dengan alur interaksi yang padat, dinamis, dan memiliki batas waktu yang jelas. Dalam kurun waktu tersebut, para member akan diajak untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai aktivitas, membangun hubungan, serta menciptakan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga berkesan.Untuk menjaga semangat dan apresiasi terhadap keaktifan member, Nivṛti menghadirkan program rutin bernama “Suara Kos Mingguan.” Dalam program ini akan dipilih Member of the Week, yaitu member dengan tingkat keaktifan paling menonjol setiap minggunya, baik dari segi interaksi, partisipasi, maupun kontribusi dalam meramaikan agency. Selain itu, menjelang penutupan agency, akan diadakan pemilihan “Idola Kosan”, yaitu Favorite Member of All Time yang dipilih melalui voting oleh seluruh member sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi individu yang paling berkesan selama perjalanan Nivṛti.Dengan sistem yang terbatas, durasi yang singkat, dan dinamika yang terfokus, Nivṛti bukan sekadar roleplayer biasa, melainkan sebuah pengalaman kolektif yang dirancang untuk meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya.

UMUM1. Satu akun hanya untuk satu kepala. Harap untuk menggunakan akun yang paling aktif saat bergabung
2. Batas maksimal jumlah akun yang diikuti adalah 110 akun. (sudah termasuk NIVRITI, akun vidyargha, akun Sāmarthya, dan akun Veeraka)
3. Username wajib menyesuaikan dengan nama karakter dan menggunakan huruf kecil
(lowercase). Dilarang menggunakan angka dan garis bawah (underscore), serta
diperbolehkan untuk menggunakan I (i kapital) sebagai pengganti huruf L.
4. Diwajibkan untuk mencantumkan “Veeraka” pada profile (bio atau location akun)
5. Wajib untuk mematuhi dan menaati peraturan yang ada di NIVRITI tanpa terkecuali.
6. Menjaga keadaan linimasa untuk tetap PG-15
KARAKTER1. Dibebaskan untuk menggunakan klaim wajah selain karakter 2D dan klaim wajah yang dilarang untuk kebutuhan roleplaying (forbidden chara)
2. Wajib memiliki informasi dasar tentang data diri dan informasi karakter meliputi profil, latar belakang, serta informasi klaim wajah yang digunakan.
3. Jarak tahun kelahiran antara klaim wajah dengan karakter adalah maksimal 3 tahun. (lebih muda atau lebih tua)
4. Tidak diperbolehkan menggunakan klaim wajah yang sama antara Sāmarthya dan Veeraka
5. Segala jenis orientasi seksual diperbolehkan
6. Batas kelahiran karakter adalah tahun 2005 atau minimal berusia 21 tahun per Maret tahun ini.
7. Diwajibkan untuk menggunakan bracket atau tagar penulis saat mencuit sesuatu yang tidak berhubungan dengan karakter (OOC)
KEAKTIFAN1. Seluruh penghuni diwajibkan untuk aktif dalam berinteraksi dan berpartisipasi mengikuti kegiatan yang ada di NIVRITI.
2. Veeraka diwajibkan untuk aktif berpartisipasi mengikuti semua kegiatan mingguan (event dan weekly mission). Veeraka diberikan kesempatan izin 1x dalam 1 (satu) minggu dengan melakukan izin terlebih dahulu kepada Sāmarthya.
3. Diharapkan untuk mengutamakan obrolan secara langsung (real time), dilarang untuk
membalas mention yang sudah lebih dari dua hari
4. Diwajibkan untuk melapor kepada Parīkṣaka apabila akun yang digunakan terkunci atau ditangguhkan.
5. Dilarang untuk melakukan deactive akun secara sepihak sebelum resmi keluar dari NIVRITI.
6. Pengajuan hiatus dapat dilakukan dengan menghubungi Parīkṣaka disertai alasan yang jelas. Durasi maksimal 3 hari dengan memberikan keterangan di profil sebagai tanda sedang hiatus.
7. Veeraka akan dikeluarkan dari NIVRITI tanpa pemberitahuan sebelumnya apabila:
a. Tidak melakukan konfirmasi slot sesuai dengan rentang waktu yang diberikan NIVRITI.
b. Bergabung di agensi lain (sebagai member atau admin) saat masih menjadi bagian NIVRITI.
c. Tidak berinteraksi secara aktif selama 48 jam terhitung dari waktu terakhir berinteraksi.
d. Tidak ada keterangan atau kabar selama 1×24 jam setelah akun terkunci atau ditangguhkan.
LARANGAN1. Selektif dalam berinteraksi kepada Veeraka atau Sāmarthya sangat tidak diperbolehkan. Diharapkan kepada semua penghuni untuk saling berbaur tanpa pengecualian.
2. Membuat cuitan (jokes, konten, drama, sindiran atau war) yang dapat mengundang
keributan atau pertengkaran, dan melakukan inside jokes yang membuat lini masa menjadi
tidak nyaman.
3. Melakukan repost atau quote repost kepada akun outsider (termasuk giveaway dari outsider). Interaksi dengan outsider masih diperbolehkan dengan mencantumkan username outsider pada awal cuitan. Hal ini juga berlaku saat melakukan shoutout layout kepada BA.
Contoh:
a. Interaksi kepada outsider:
@outsider udah makan belum?
udah makan belum? @outsider
b. Shoutout kepada BA:
#WN
@businessacount LUCU BANGET KAK LAYOUTNYA 🩷🥹
4. Memakai atau menggunakan layout group dengan beberapa penghuni NIVRITI, namun penggunaan layout couple tetap diperbolehkan.
5. Merepost akun fanbase dengan tujuan update face claim.
6. Melakukan fangirling atau fanboying secara OOC. Diperbolehkan jika secara IC merupakan seorang fangirl atau fanboy dengan catatan tidak berlebihan.
7. Melakukan reuni, berkubu, membuat circle di dalam circle, serta membuat grup yang berisi beberapa penghuni tanpa izin dari Sāmarthya sangat tidak diperbolehkan.
8. Membuat postingan yang termasuk ke dalam phobia list. Harap menggunakan tagar Trigger Warning (TW) atau Content Warning (CW) terhadap sesuatu yang dirasa berhubungan
dengan phobia list.
Contoh:
TW // trypophobia
CW // penistaan makanan
Penulisan harus menggunakan spasi dan tanpa sensor.
9. Dilarang membuat postingan yang mengandung hal eksplisit dan umpatan-umpatan yang kasar. Umpatan yang masih diperkenankan yaitu bjir, bjil, asgajgsajshajah, bjrot, anjir, dan anjrit
10. Dilarang mengunggah, merepost, ataupun like postingan yang mengandung unsur pornografi.
11. Tidak mengikuti agenda mingguan NIVRITI (event dan weekly mission) dua kali berturut-turut tanpa izin atau konfirmasi yang jelas kepada Sāmarthya.
12. Dilarang mengirim pesan, membalas, dan memberikan reaksi pada grup DM NIVRITI
13. Tidak diperbolehkan untuk reply tweet atau saling membalas mention pada saat no mention berlangsung kecuali kepada moderator game night atau untuk keperluan game night, dan wajib fokus berinteraksi di linimasa.
14. Mengubah klaim wajah dan/atau karakter original selama NIVRITI beroperasi, kecuali terdapat hal mendesak.
15. Mengajak secara publik untuk bermain/berinteraksi di luar platform X (roblox, plato, rave, dll) tanpa seizin Krīḍādhyakṣa.

#menu